News
Relaksasi PPnBM percepat pertumbuhan penjualan mobil ke titik normal

Relaksasi PPnBM percepat pertumbuhan penjualan mobil ke titik normal

Jakarta (ANTARA) – Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan relaksasi retribusi penjualan atas barang mewah (PPnBM) dapat mempercepat pertumbuhan penjualan mobil ke titik normal seperti sebelum terjadi pandemi.

Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, mengatakan tidak akan lama lagi pertumbuhan pemasaran mobil mencapai titik normal dengan penjualan sekitar 1 juta bohlam tahun atau di angka agak hampir 80. 000 per bulan.

“Saya kira rata-rata tahun akan normal apalagi jika ada (relaksasi) PPnBM, ” perkataan Tauhid dalam diskusi virtual “Apa Kata Konsumen Tentang Gratis Pajak Mobil Baru? “, Minggu.

Baca selalu: Menperin: Industri otomotif jadi sektor andalan ekonomi nasional

Tauhid menjelaskan pemasaran secara ritel memang sempat menjalani penurunan drastis pada awal pandemi, Maret, April dan Mei 2020. Namun, kemudian meningkat untuk segenap jenis kendaraan, termasuk juga dengan menjadi sasaran kebijakan relaksasi PPnBM, yakni tipe di bawah 1500cc.

Pertumbuhan pembelian pula pulih dengan cepat. Bahkan, taat Tauhid, lebih baik dari kala sebelum pandemi. Untuk kendaraan 1500cc, pada Maret 2019-Februari 2020 kemajuan bulanan mencapai 0, 98 upah, sementara setelah pandemi justru menyusun cukup tajam 5, 36 komisi.

Hal yang setara juga terjadi pada ritel instrumen di bawah 1500cc. Pertumbuhan pembelian sebelum pandemi 0, 92 tip, sementara setelah pandemi 5, 41 persen.

“Data itu menunjukkan bahwa konsumen sebenarnya punya kemampuan daya beli pada zaman pandemi, tetapi dia menahan pembelian, artinya bilamana drop pandemi itu mereka punya daya beli tapi menahan pembelian bagi sebagian menengah ke atas, ” kata Tauhid.

Baca selalu: Kebijakan relaksasi PPnBM dinilai sanggup cegah PHK di industri otomotif

“Dari data ini kita lihat tampaknya growth -nya akan meningkat lagi, katakanlah sesudah di Januari, Februari, bahkan belum lagi kalau ada kebijakan ini, ” dia melanjutkan.

Meski begitu, Tauhid melihat kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan di penjualan yang meningkat tajam. Pokok, pertumbuhan memang sudah relatif membaik dalam enam bulan terakhir. Terlebih, ditunjang pula dengan pola karakter konsumen yang tidak berubah.

Kebijakan relaksasi PPnBM buat kendaraan berkapasitas mesin kurang sebab 1500cc juga berdampak pada kemerosotan harga jual kendaraan yang diperkirakan sekitar 10 persen. Sebagai mengikuti, Tauhid mengatakan harga mobil Rp200 juta misalnya, dapat berkurang Rp17-20 juta.

Namun, hal ini tentunya juga berdampak pada penurunan pendapatan pajak PPnBM dari otomotif yang diperkirakan sebesar Rp2, 28 triliun.

Situasi lain yang perlu diperhatikan, taat Tauhid, adalah penurunan pajak kawasan juga perhitungan dari peningkatan pajak penghasilan (PPh).

“Tentu saja ada peningkatan pajak bayar karena ada penerimaan dari perusahaan-perusahaan yang omzetnya meningkat. Dari bidang bisnis volume bertambah, sementara kongsi juga mendapatkan keuntungan dari bagian industri, ” ujar Tauhid.

Baca selalu: 72 persen konsumen sambut nyata relaksasi pajak mobil baru

Baca selalu: Kadin sebut relaksasi kredit mobil mampu gerakkan penjualan

Pewarta: A086
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2021