News
Kemenperin: Industri farmasi-alkes masuk program Making Indonesia 4. 0

Kemenperin: Industri farmasi-alkes masuk program Making Indonesia 4. 0

Making Indonesia 4. 0 adalah muslihat menuju Industri 4. 0 dengan transformasi digital manufaktur

Jakarta (ANTARA) – Industri farmasi dan alat kesehatan masuk ke pada program Making Indonesia 4. 0 Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang ingin mengakselerasi penerapan Industri 4. 0 di sektor manufaktur.

“Making Indonesia 4. 0 adalah desain menuju Industri 4. 0 secara transformasi digital manufaktur. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri nasional, ” sahih Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu.

Making Indonesia 4. 0 dijadikan sebagai peta jalan untuk mempercepat pembangunan sektor industri yang berdaya saing global. Aspirasinya bilangan, yakni mewujudkan Indonesia berada di dalam jajaran 10 negara yang mempunyai ekonomi terbesar di dunia pada 2030.

Baca juga: Kemenperin dorong kemerdekaan industri alat kesehatan dan farmasi

Melalaikan Making Indonesia 4. 0, introduksi dia, juga akan meningkatkan ekspor netto sebesar 10 perseb kepada produk domestik bruto (PDB), penambahan produktivitas dua kali lipat kepada biaya, serta pengeluaran untuk riset dan pengembangan sebesar dua persen dari PDB.

“Bahkan, implementasi Making Indonesia 4. 0 akan membuka peluang lapangan kerja dengan keahlian baru di sektor industri dan jasa pendukung industri, yang didukung dengan momentum suplemen demografi, ” ujar Menperin.

Saat program ini diterapkan pada 2018, Kemenperin telah mengikat lima sektor prioritas yang didorong untuk menjadi fokus dari perluasan Making Indonesia 4. 0.

Kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, kimia, dan elektronika.

Pemilihan kelima sektor industri itu didasarkan pada berbagai faktor penting, kurun lain industri-industri tersebut telah berkontribusi sebesar 70 persen terhadap PDB nasional.

Selain tersebut, sektor-sektor industri yang ditetapkan menjelma prioritas, juga mewakili 65 komisi ekspor industri serta menyerap kira-kira 60 persen tenaga kerja industri.

Dalam perkembangannya, Kemenperin menambahkan sektor industri alat kesehatan dan industri farmasi.

“Masuknya industri alat kesehatan serta farmasi ke dalam prioritas pengembangan Making Indonesia 4. 0 adalah salah satu upaya Kemenperin buat dapat segera mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan, ” kata Menperin.

Kemandirian Indonesia di sektor industri cara kesehatan dan farmasi merupakan situasi yang penting, kata dia, terlebih dalam kondisi kedaruratan kesehatan laksana saat ini.

Daerah industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah pandemi COVID-19, pada saat sektor lain terdampak mengandung.

Kemandirian di sektor industri alat kesehatan dan farmasi diharapkan berkontribusi dalam program pengurangan angka impor hingga 35 obat jerih pada akhir 2022.

“Inovasi dan penerapan industri 4. 0 di sektor industri alat kesehatan dan farmasi dapat meningkatkan produktivitas, ” ujar Menperin.

Oleh karena itu,   Kemenperin terus berupaya meningkatkan gaya saing sektor industri alat kesehatan dan farmasi dengan mendorong alterasi teknologi berbasis digital.

Pemanfaatan teknologi digital ini nantinya akan dimulai dari tahapan produksi hingga distribusi kepada konsumen.

“Dengan menjalankan digitalisasi, perusahaan dapat mengatur proses kerja maupun SDM-nya dan tetap produktif, ” papar Menperin.

Dalam 2019,   Kemenperin telah meluncurkan Indonesia Industry 4. 0 Readiness Index atau dikenal dengan INDI 4. 0.

Mencuaikan INDI 4. 0, perusahaan pabrik melakukan penilaian mandiri untuk mengukur kesiapannya dalam bertransformasi menuju pabrik 4. 0.

“Kami akan kembali melakukan assessment INDI 4. 0 untuk mengukur kesiapan industri menerapkan Industri 4. 0 dalam rangka upaya pemulihan industri nasional, ” kata Menperin.

Baca selalu: Pemerintah yakini industri kesehatan siap andalan di era normal baru
Baca juga: Menperin siapkan stimulus tambahan bagi industri terdampak pandemi

Pewarta: Risbiani Fardaniah
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020