News
Ivermectin dapat izin EUA BPOM, Stafsus BUMN harap oleh sebab itu terobosan baru

Ivermectin dapat izin EUA BPOM, Stafsus BUMN harap oleh sebab itu terobosan baru

Jakarta (ANTARA) – Kementerian BUMN berharap masuknya Ivermectin sebagai salah satu sebab beberapa obat yang memperoleh izin persetujuan penggunaan perlu atau Emergency Use Authorization (EUA) sebagai obat yang mendukung penanganan terapi COVID-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bisa menjadi terobosan baru.

Staf Khusus III Gajah BUMN Arya Sinulingga mengutarakan bahwa Kementerian BUMN selalu sepakat proses harus dilalui termasuk untuk obat terapi ini, serta juga pendidikan bahwa Menteri BUMN Erick Thohir sempat mengirimkan tulisan untuk meminta EUA dari BPOM secara resmi. Dan setelah itu juga bersama-sama dengan BPOM Menteri BUMN mengajukan juga EUA itu untuk Ivermectin.

“Jadi sekarang setelah keluar hasilnya, semoga ini bisa memberikan terobosan-terobosan baru buat pengobatan terapi COVID-19, ” ujar Arya Sinulingga dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut Arya, hal tersebut bisa menolong untuk memicu penurunan COVID-19 di Indonesia yang sekarang sedang terjadi. Dan utama hal ialah obat itu adalah obat yang murah, apalagi yang generik pada mana harganya sekitar Rp7. 885 per tablet hendaknya obat ini bisa diakses oleh masyarakat secara luas juga namun tetap secara syarat adanya resep dokter atau pengawasan dokter.

“Ini adalah suatu terobosan baru yang segera dalam kondisi serta situasi jumlah penderita COVID-19 yang meningkat akhir-akhir ini, ” katanya.

BPOM memberikan izin penggunaan genting (EUA) bagi 8 obat yang mendukung penanganan terapi COVID-19.

Kejadian tersebut tercantum dalam salinan Surat Edaran Nomor: PW. 01. 10. 3. 34. 07. 21. 07 TARIKH 2021 Tentang Pelaksanaan Distribusi Obat Dengan Persetujuan Penerapan Darurat (Emergency Use Authorization) yang diterima oleh Antara dari Staf Khusus III Menteri BUMN Arya Sinulingga pada Rabu malam (14/7).

“Bahwa telah ditetapkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK. 02. 02. 1. 2. 07. 21. 281 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua akan Keputusan Kepala Badan Kepala Obat dan Makanan Bagian HK. 02. 02. satu. 2. 11. 20. 1126 Tahun 2020 tentang Isyarat Teknis Pelaksanaan Persetujuan Penerapan Darurat (Emergency Use Authorization) sebagai acuan bagi pelaku usaha dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mengelola Obat yang diberikan EUA dengan mengatur keharusan adanya kontrak antara pemilik EUA secara Apotek dan kewajiban pelaporan bagi fasilitas distribusi dan fasilitas pelayanan kesehatan, ” sebagaimana tertulis pada arah latar belakang surat informasi tersebut.

Di poin tujuh, bagian muatan surat edaran tersebut, tercatat beberapa obat yang mendukung penanganan terapi COVID-19 yakni obat yang mengandung:

a. Remdesivir
b. Favipiravir
c. Oseltamivir
d. Immunoglobulin
e. Ivermectin
f. Tocilizumab
g. Azithromycin
h. Dexametason (tunggal)

Mengenai Surat Edaran Nomor: PW. 01. 10. 3. 34. 07. 21. 07 TARIKH 2021 Tentang Pelaksanaan Distribusi Obat Dengan Persetujuan Penerapan Darurat (Emergency Use Authorization) tersebut ditetapkan di Jakarta pada 13 Juli 2021.
Membaca juga: Kimia Farma perluas distribusi Ivermectin di Jawa-Bali
Baca juga: Indofarma tingkatkan produksi Ivermectin mematok dua kali lipat

 

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © JARANG 2021