News
Gubernur BI: Bank yang tidak digitalisasi layanan bakal ketinggalan

Gubernur BI: Bank yang tidak digitalisasi layanan bakal ketinggalan

Bank yang tidak melakukan digital banking atau open banking tentu saja model bisnisnya akan ketinggalan

Jakarta (ANTARA) – Bank Nusantara (BI) mendorong perbankan merealisasikan open banking atau digitalisasi layanan perbankan kepada nasabah secara terbuka agar bisnisnya tidak ketinggalan karena kini menjadi hajat pada masa pandemi COVID-19.

“Bank yang tidak melakukan digital banking atau open banking tentu saja ragam bisnisnya akan ketinggalan, ” kata pendahuluan Gubernur BI Perry Warjiyo di diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Bank sentral tersebut sejak Mei 2019 mendorong open banking sebagai bagian Blueprint Sistem Pembayaran Nusantara 2025.

Melalui open banking atau digitalisasi perbankan itu, kata pendahuluan dia, layanan bank bisa disambungkan dengan platform digital lain, antara lain perusahaan teknologi keuangan (fintech) tenggat perusahaan perdagangan daring atau e-commerce mencuaikan Application Programming Interface (API), jadi memberikan kemudahan layanan transaksi kepada nasabah.

Baca juga: BI: Digitalisasi oleh sebab itu motor penggerak ekonomi bangkit sebab pandemi

Dalam kesempatan itu Gubernur BI juga memaparkan empat aspek dengan perlu cermati perbankan dalam menggelar open banking, yaitu transformasi infrastruktur teknologi yakni semua sistem layanan perbankan saling terkoneksi misalnya terkait tresuri, kredit, hingga dana yang tersambung dengan data terkait dana, nasabah hingga petugas bank.

Aspek kedua, lanjut dia, membentuk gudang data dari berbagai pola informasi yang dimiliki bank di antaranya meliputi metadata deposan dan debitur.

“Apakah metadata itu juga sudah dibangun dengan artificial intelligent , big data analytical , harus dikembangkan untuk mengolah bervariasi data sehingga bisa berguna, ” imbuh Gubernur BI.

Baca juga: OJK: Nasabah tidak mau lagi servis konvensional setelah pandemi

Selanjutnya, aspek terkait pengembangan model bisnis berdasarkan sistem teknologi informasi dan metadata yang dimiliki bank hingga memberikan servis interaktif secara daring dengan nasabah.

“Sehingga dulu nasabah harus ke bank buka bon atau mengajukan kredit, sekarang banyak dilakukan hanya dengan jari menggunakan gadget . Ini lah kenapa pelayanan perbankan meningkat, ” katanya. Aspek terakhir yakni menukar pola pikir yang dilakukan daripada jajaran level tertinggi perusahaan hingga bawahan dalam melalukan transformasi.

“Kalau pimpinan, para CEO, direksi men drive dan di bawah milenial itu siap, middle manager harus mengubah mindset , mereka tahu bisnis perbankan tapi perkara kemampuan digital perlu terus dikerjakan, ” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Baca juga: OJK minta perbankan genjot teknologi saat pandemi COVID-19
 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020